Share on whatsapp
Share on facebook
Share on twitter
Share on telegram

Gencarnya Isu Pilkada sejak berbulan bulan yang lalu memang menanam beraneka prasangka sebab akan dilaksanakan di tengah wabah. Roda pemerintahan yang memiliki dasar dan tujuan untuk mengatur mekanisme kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara sehingga bisa disimpulkan demi kemaslahatan justru menjadi ambigu. Adalah sebuah tantangan untuk berpikir sepositif itu.

Hingga pada akhirnya pilkada kini di depan mata. Positive thinking tentu menjadi keharusan bagi seluruh rakyat Indonesia. Bahwa pilkada adalah agenda besar menuju kesejahteraan bersama. Perjalanan sedemikian rupa, dari penundaan pilkada hingga pemantapan penyelenggaraan pun akhirnya mendikotomi pikiran dan nurani dari hari ke hari.

Sebagai warga negara awam yang polos dan berbakti padamu negeri, saya mengikuti alur dan skenario ini. Anomali yang terjadi pada tatanan kehidupan sehari-hari terus menggerus optimisme seiring membaca berita-berita penuh intrik politik serta polemik.

Bagaimana tidak?

Kampanye dialogis secara tidak langsung dibatasi. Semua bertumpu pada gawai, yang tidak bisa menjangkau seluruh lapisan masyarakat. Batasan-batasan aturan kampanye pun tak lagi dimengerti oleh dominan masyarakat. Era informasi dalam dunia daring juga terus menghadirkan produk-produk hoax dan ujaran kebencian. Parahnya mata kita masih samar membedakan mana berita yang jernih mana berita yang keruh.

Selain itu, kampanye yang sehat dan kuat juga menjadi absurditas. Bagi mereka yang kalo ditanya “siapa?” lalu dengan bangga menjawab “wong penginyongan” yang tiap hari berkerja dalam kalkulasi untung rugi, tentu minim sekali yang peduli pada kesehatan kampanye pilkada itu sendiri. Sederhananya, orang-orang pedesaan yang jauh dari kata edukasi sedikit sekali yang mengerti money politik, bagi mereka lebih penting mengkalkulasi untung rugi sebab kesadarannya tak memadai.

Belum lagi soal korupsi (suap) dana bansos penanggulangan covid-19 yang diungkap KPK baru-baru ini. Ah, saya yang tiap hari misuh-misuh soal sistem pendidikan karena tiap hari menghadapi adik-adik jenjang sekolah dasar, kembali ditambah misuh-misuh karena korupsi. Kopi dan musik di pagi hari rasanya tak senikmat dulu.

Angan-angan yang membelukar gegara berita menyedihkan dan memprihatinkan itu benar-benar merenggut kepercayaanku pada pejabat negara (dibaca: koruptor, birokrat yang hilang manusiawinya). Pun akhirnya berimplikasi pada penyelenggaraan pilkada ini.

Bertepatan pula dengan hari anti korupsi, sebenarnya berat sekali mengatakan “yaudah gapapa, yang udah ya udah, pemimpin selanjutnya pasti jauh lebih baik dari ini, selamat hari antikorupsi ya, yuk kita berantas para koruptor” Berat sungguh melupakan pengkhianatan semacam itu, iya semacam korupsi. Tapi adanya hari anti korupsi memang sebuah penegasan bagi kita untuk merefleksi diri menjunjung tinggi nilai-nilai kejujuran dalam berbagai bentuk dan situasi. Benar bagi kita, utamanya bagi mereka. Semoga.

Di penghujung tahun 2020 yang serba lucu dan menggemaskan, mari kita lihat paslon-paslon itu dengan seksama, mari kita tatap kesungguhan mereka membenahi Purbalingga dan seisinya, mari kita simak bersama kalimat manis yang kelak akan diwujudkannya. Marilah berdoa dan menaruh harap. Tapi sedang-sedang saja. Karena mereka manusia. Iya manusia, begitukan manusia. Selamat nyoblos dengan sehat dan ingat dhawuh Gus Dur, Guru Bangsa yang menyejukkan “Yang lebih penting dari politik adalah kemanusiaan” . 🤟🏼

 

Oleh : Nur Rohmah Sri Rezeki (Redaktur PSC)

 

Admin Web Pelajar NU Perwira - IPNU IPPNU Kabupaten Purbalingga.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *