Share on whatsapp
Share on facebook
Share on twitter
Share on telegram

Jika dirasa-rasa, kehidupan itu selalu semakin hari semakin meningkat kualitasnya, selalu mengabarkan kepada kita tentang yang namanya perubahan. Dan kini perubahan yang sedang berbicara adalah globalisasi, digitalisasi dan modernisasi. Ketiganya memiliki pemaknaan yang hampir serupa. Namun apakah globalisasi, digitalisasi serta modernisasi hanya berdampak positif? Adakah dampak negatifnya? Seberapa besar dampak negatifnya? Atau mungkin mudharatnya justru malah menjadi momok yang menjajah kita sendiri tanpa disadari?

Setiap orang kini selalu tergantung dengan teknologi dan informasi. Tanpa gadget/handphone/laptop/dan alat elektronik lainnya yang memiliki jaringan internet, orang –orang seakan terjerat ketidakbebasan, merasa diri sebagai orang yang paling tertinggal dan fakir informasi. Padahal ketika tangan kita menggenggam alat komunikasi yang supercanggih ini, disadari atau tidak kita telah banyak dirugikan.

Salah satu dampak negatif dari pola kehidupan milenial yang membelengggu kita adalah susah fokus dan pengikisan waktu diluar kesadaran. Seringkali kita tidak betah melakukan suatu aktivitas dalam waktu yang lama dan mudah sekali terganggu oleh hal lain. Distraksi/gangguan semacam ini memang bisa berasal dari faktor-faktor eksternal seperti teman yang mengajak ngobrol atau panggilan alam ke toilet

Namun percayakah? Bahwa distraksi adalah karakter utama dalam ekosistem media digital. Jadi ekosistem media digital telah mewadahi kita untuk melakukan banyak hal dalam waktu yang bersamaan, atau yang biasa kita sebut sebagai multitasking.

Dengan multitasking kita bisa memanfaatkan waktu secara efisien hanya dengan menggunakan satu media. Namun sayangnya, karena semua aktivitas bisa dilakukan dalam satu media, godaan untuk melakukan semuanya sekaligus menjadi sulit untuk dihindari.

Misalnya ketika  kita sedang membaca e-book sambil mendengarkan musik, tiba-tiba ada seseorang mengirim pesan via whatsapp dan pesan yang dikirim adalah link berita, otomatis fokus kita teralihkan untuk membaca berita dari link yang masuk di whasapp tersebut. Lalu hasilnya apa? kita tidak paham dengan isi e-book yang kita baca sebelumnya. Nah setiap aktivitas ini kita anggap penting, tapi ketika semua aktivitas dilakukan secara bersamaan hal-hal penting tadi malah jadi gangguan atau distraksi.

Nah, situasi seperti ini mendorong media online dan sejenisnya untuk mengemas informasi dalam bentuk yang singkat, padat dan menarik. Karena konten digital sangat banyak dan fokus kita malah makin tipis. Pengemasan yang padat dan singkat membiasakan kita untuk berpikir singkat dan padat pula, yang seringkali mengorbankan akurasi dan kedalaman.

Kita tidak lagi membaca dengan detil. Kita tidak punya waktu cukup untuk berkontemplasi tentang makna dari pesan yang kita temukan di media. Bahkan berbagai penelitian mengatakan bahwa kita tidak lagi membaca tapi memindai. Perubahan pola pembaca ini ini mempengaruhi cara berpikir kita. Kita tidak lagi berpikir secara mendalam. Kita berpikir dengan singkat, cepat dan dangkal.

Dulu ketika masyarakat Yunani mulai menyambut media tulis, Socrates memprediksi kalau media baru ini akan membuat manusia malas mengingat. Demikian juga ketika Gutenberg membuat mesin cetak, banyak kalangan yang menilai bahwa temuan Gutenberg akan merusak cara kita belajar. Sebelum Gutenberg, membaca hanya dilakukan oleh segelintir orang. Mereka harus pergi ke perpustakaan, baca buku di perpustakaan lalu berdiskusi bersama.

Namun ketika ada mesin cetak semua orang bisa membaca dirumah masing-masing dan menciptakan budaya baru yaitu mengoleksi buku tanpa membacanya. Pesimisme seperti ini lumrah, karena pada dasarnya media baru sifatnya adalah merombak atau menghancurkan praktik sosial dan cara berpikir yang sudah mengakar kuat dalam  suatu peradaban.

Perubahan yang dilakukan oleh teknnologi digital memang turut mengubah praktik sosial dan cara berpikir kita, namun dalam waktu yang bersamaan perubahan itu pula yang membuat kualitas kehidupan manusia secara umum menjadi meningkat. Dan kita tidak bisa menyalahkan atau menghentikan perubahan ini.

Cara kita mengolah informasi dan pengetahuan memang berubah secara drastis, kita mungkin tidak lagi dapat berpikir sedalam dulu, tapi kita bisa mengompensasi segala kekurangan ini. ketika memasuki tradisi cetak, kemampuan mengingat yang melekat pada kebudayaan lisan menurun drastis dan tergantikan oleh budaya arsip karena adanya mesin cetak. Kemudian ketika kita pindah dari budaya tulis ke budaya digital kita kehilangan kedalaman dan akurasi informasi yang sangat sakral.

Selain mengikisnya kedalaman dalam menerima informasi, kejahatan lain yang dilakukan oleh media digital adalah penggelapan waktu. Ketika kita beraktvitas d dunia maya, waktu seakan berjalan begitu cepat. Menjelajah informasi dan berkomunikasi tidak langsung menjadi kegiatan pokok manusia digital dewasa ini. informasi menjadi fokus utama karena saat ini setiapa individu dihadapkan pada perang pemikiran.

Namun karena banyak distraksi dalam kehidupan maya, maka waktu yang digunakan untuk menjelajah tercuri untuk berbagai hal yang tidak penting. Karena pikiran kita selalu lebih tertarik kepada sesuatu yang bersifat menghibur dan santai. Sementara akurasi dan kedalam sebuah informasi cenderung bersifat kaku dan serius.

Terkikisnya akurasi dan kedalaman justru menjadi tantangan kita sebagai pengguna media.Di satu sisi kita mendapat keuntungan dari media baru, di sisi lain banyak nilai-nilai penting yang musti kita pertahankan dari budaya cetak. Bagaimana mengatasi dilema ini? inilah pertanyaan yang harus kita jawab dalam kehidupan sehari-hari kita sebagai warga digital.

Sumber: https://www.remotivi.or.id/

Oleh: Nur Rohmah Sri Rezeki (ig: @ezeki_rohmah)

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *