Share on whatsapp
Share on facebook
Share on twitter
Share on telegram

Masyarakat merupakan bagian dari lingkungan pendidikan sebab masyarakat Indonesia sudah diberi amanah yang tercantum dalam UUD 1945, yakni mencerdaskan kehidupan bangsa. Dalam hal ini kehidupannya yang dicerdaskan, maka dari itu pendidikan bukan lagi berada dalam lembaga pendidikan, melainkan menyatu dalam semua aspek kehidupan dan berlaku untuk siapapun dan dimanapun di wilayah Indonesia. Peran masyarakat dalam lingkup pendidikan adalah sebagai lingkungan pendidikan nonformal yaitu secara fungsional dan struktural. Lingkungan masyarakat memberikan pendidikan secara sengaja dan berencana kepada seluruh anggotanya, tetapi tidak sistematis. Dengan kesadaran anggota masyarakat, pendidikan akan terbentuk karena lingkungan masyarakat berpengaruh besar terhadap proses pendidikan.

Masyarakat dan Pendidikan
Secara umum biasanya masyarakat hanya diartikan sebagai sekumpulan manusia yang bertempat tinggal dalam suatu kawasan dan saling berinteraksi dengan sesama untuk mencapai tujuan(2016: 46). Hakikat masyarakat lebih dari itu. Jika didalami masyarakat merupakan bagian dari pendidikan, begitupula sebaliknya masyarakat merupakan komponen pendidikan itu sendiri. Karena setiap individu lahir dalam masyarakat. Disisi lain pendidikan juga ada sejak individu lahir. Untuk itu pendidikan dan masyarakat harus berjalan beriringan dan berhubungan erat satu sama lain, bukan bagian yang terpisah.

Salah satu kontribusi yang dapat dilakukan masyarakat untuk membangun ruang pendidikan yang rapi adalah dengan menata lingkungannya agar tetap berada dalam koridor yang bersih dan sehat serta berpola pikir terbuka apalagi dalam kehidupan yang plural dan kompleks. Semua orang menyadari dan memahami kalau pada era reformasi ini, keterbukaan menjadi kata kunci dalam membangun masyarakat yang berkualitas.

Dengan keterbukaan, toleransi dan dan sikap kritis dapat dibentuk. Untuk membangun pola pikir terbuka maka harus dimulai dari pembiasaan untuk mempertahankan nilai luhur pribadi bangsa Indonesia yang dimiliki oleh masyarakatnya. Derasnya arus informasi di era digital ini harus terus dibentengi dengan tradisi kebersamaan dan gotong royong.

TPQ dan Perpustakaan sebagai Intregasi Pendidikan
Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPQ) merupakan tempat pendidikan informal yang mengajarkan nilai-nilai agama Islam yang bertumpu pada Al-Qur’an dan Al Hadits sebagai pembelajaran yang utama, serta membimbing santri menjadi muslim yang taat beragama (2015: 40-43). Guru-guru atau ustadz dan ustadzah TPQ mengajarkan tentang materi-materi agama Islam seperti do’a harian, sejarah Islam, dan membimbing santri menjadi muslim yang taat beragama. TPQ memiliki peran yang sama untuk mencerdaskan kehidupan bangsa seperti halnya dengan pendidkan umum. Perpustakaan adalah institusi pengelola koleksi karya tulis, karya cetak, dan/atau karya rekam secara profesional dengan sistem yang baku guna memenuhi kebutuhan pendidikan, penelitian, pelestarian, informasi, dan rekreasi para pemustaka(2007).

Adanya dikotomi pendidikan pada sistem pendidikan di negeri ini banyak mempengaruhi mindset masyarakatnya seperti adanya SD dan MI, SMP dan MTs, SMA/SMK dan MA bahkan hingga perguruan tinggi, ada univesitas umum dan universitas Islam. Dengan demikian, masyarakat menganggap adanya perbedaan yang timpang antara dua basis lembaga pendidikan tersebut. Mereka berkesimpulan esensi pembelajaran yang terkandung dalam lembaga pendidikan berbasis Islam dan umum harus dilakukan secara terpisah dan keduanya tidak bisa beriringan dan selaras. Untuk itu perlu adanya integrasi pendidikan yang mengubah mindset masyarakat agar memprioritaskan keduanya.

Seperti halnya yang berkembang dalam masyarakat bahwa pembelajaran agama Islam biasanya hanya diperoleh melalui TPQ dan pengetahuan umum sebatas diperoleh hanya dalam pendidikan formal padahal ada upaya yang bisa dilakukan oleh masyarakat untuk mengembangkan pengetahuan pendidikan masyarakatnya misalnya melalui perpustakaan. Sedangkan realita yang terjadi sekarang keberadaan perpustakaan desa sangat minim. Sehingga yang menjadi pertanyaan sekarang adalah masih adakah keinginan yang kuat untuk mengitegrasikan ilmu agama dan ilmu umum dalam praktik kehidupan bermasyarakat khususnya bagi remaja?

Remaja haruslah diberi pengertian dari masyarakat mengenai pentingnya menuntut ilmu baik ilmu agama maupun umum, sehingga mampu melahirkan kualitas masyarakat yang baik dilihat dari pendidikan masyarakatnya kemudian siapakah yang memiliki tanggung jawab untuk menciptakan pendidikan masyarakat yang integral apakah remaja itu sndiri atau dari pihak perangkat desa atau tokoh masyarakat? Tentu semuanya terlibat mulai dari pihak perangkat desa atau tokoh masyarakat melalui TPQ atau perpustakaan desa sehingga remaja sebagai sasaran pendidikan dapat melibatkan diri melalui kegiatan yang ada didalamnya.

TPQ dan perpustakaan juga memberikan ruang untuk mewadahi remaja yang memilki potensi untuk mengembangkan dirinya. TPQ tidak sekadar sebagai tempat belajar ilmu agama akan tetapi sebagai tempat pengembangan bakat dan minat individu remaja, dalam berkarya. Begitupula Perpustakaan desa yang juga tidak hanya sebagai fasilitator yang mewadahi koleksi-koleksi literatur, tetapi dapat menggugah kreativitas remaja dengan membuat atau menjadikan perpusakaan desa sebagai tempat diskusi, mempublikasikan karya dan lain-lain. Sehingga dengan kedua wadah tersebut mampu menciptakan remaja desa yang menjunjung tinggi ilmu moral sekaligus menjadikan pribadi yang produktif dan kreatif.

Kebanyakan di desa-desa sedikit sekali yang memilki perpustakaan, kalau pun ada biasanya itu milik perorangan atau lembaga pendidikan formal seperti di sekolah dasar. Jarang sekali desa memilki perpustakaan pribadi. Yang berkembang di desa umumnya TPQ, apalagi jika dalam suatu desa tersebut masyarakatnya mayoritas memeluk agama Islam. Bahkan dalam satu desa bisa terdapat empat TPQ atau lebih.

TPQ dan perpustakaan desa dapat diterapkan untuk menghimpun seluruh remaja-remaja dimana dengan itu dapat mempererat persatuan remaja agar mereka saling mengenal, berinteraksi dan bekerjasama sehingga mampu menumbuhkan kekeluargaan yang besar dan nilai gotong royong. Kemajuan teknologi yang pesat harus dibarengi dengan penanaman moral dan akhlak agar tidak terbawa arus globalisasi yang melunturkan nilai nilai yang menjadi karakter bangsa. Untuk itu pengitegrasian TPQ dan perpustakaan desa dapat menjadi solusi menghadapi dinamika kehidupan yang sangat bergejolak ini.

Karena dengan TPQ dan perpustakaan konsep tanggung jawab pendidikan yang dibebankan kepada masyarakat berupa pengawasan penyaluran, pembinaan dan peningkatan kualitas anggotanya dapat terlaksana dengan optimal.

Konsep TPQ yang Ideal
Disetiap TPQ pasti memiliki unggulan atau ciri khas masing-masing. Keunggulan tersebut dapat dilihat dari basis dan metode pengajarannya. Ada yang berbasis hafalan al-Quran, berbasis literasi bahkan berbasis kitab klasik (namun biasanya ini pada madrasah diniyah). Pada metode belajar membaca al-Quran ada yang menggunakan metode iqro’, qiroati, yanbu’a dan sebagainya.
TPQ yang ideal, mengajarkan semua lingkup materi agama Islam sehingga tidak hanya berfokus pada pengajaran membaca al-Quran saja, namun lebih dari itu. Diantara lingkup agama Islam antara lain: akidah, fiqh, akhlak, ilmu tajwid, sejarah nabi, dan sebagainya. Semua materi tersebut dapat diberikan dengan cara dijadwalkan sehingga dapat tersampaikan secara keseluruhan dan terstruktur.

Disamping itu, TPQ yang ideal juga memberikan kesesuaian antara materi yang diberikan dengan apa yang guru lakukan sebagai teladan santrinya. TPQ juga harus memberikan ruang kepada santrinya untuk mengeksplorasi kemampuan mereka, dengan memberikan pengajaran yang kreatif, yang menjadikan santri selalu aktif. Misalnya, disetiap akhir pembelajaran selalu diadakan kuis atau tanya jawab yang berkaitan dengan materi. Dan diakhir tahun ajaran diselenggarakan “akhirussanah” dengan menampilkan apa saja yang telah dipelajari dalam satu tahun pembelajaran, menampilkan pula aneka kreatifitas santri dalam hal seni yang bisa dipertunjukkan dalam acara tersebut.

Konsep Perpustakaan yang Ideal
Perpustakaan secara nasional difungsikan dalam rangka mencerdaskan kehidupan
bangsa sebagaimana diamanatkan dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, perpustakaan sebagai wahana belajar sepanjang hayat mengembangkan potensi masyarakat agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab dalam mendukung penyelenggaraan pendidikan nasional. Untuk itu dalam mengelolaannya haruslah dilakukan dengan optimal. Baik berupa penyediaan fasilitas yang memadai, lengkapnya koleksi literasi di segala bidang pengetahuan, baik umum maupun agama, adanya ruang yang memadai baik untuk penyimpanan koleksi, tempat buku yang dipinjami, termasuk tempat diskusi, aula atau ruang pertemuan, ruang administrasi dan lain sebagainya.

Sedangkan guna pembentukan karakter, dalam perpustakaan tidak hanya pengandalkan banyaknya koleksi buku. Akan tetapi harus ada ahli pustaka yang memahami tentang keperpustakaan, sehingga petugas yang ada tidak hanya berkecimpung dalam hal administrasi, namun bisa lebih dari itu. Dalam hal ini diperlukan upaya guna menciptakan budaya gemar membaca melalui pengembangan dan pendayagunaan perpustakaan sebagai sumber informasi. Perpustakaan juga harus mengikuti perkembangan zaman sehingga karya berupa karya tulis, karya cetak, dan/atau karya rekam bisa dapat dikembangkan menjadi karya elektronik.
Dalam hal lain, upaya untuk memajukan kebudayaan nasional. Perpustakaan merupakan wahana pelestarian kekayaan budaya bangsa. Sehingga didalamnya berfungsi sebagai tempat menyimpan arsip-arsip, dokumen, dan segala hal yang berkaitan dengan budaya setempat.
Akhirnya dengan adanya Taman Pendidikan al-Quran dan perpustakaan desa yang dikemas dalam sistem yang ideal maka nantinya dapat menciptakan pendidikan masyarakat yang integral, khususnya bagi remaja sebagai sasaran pendidikan untuk mewadahi perkembangan potensi dirinya.

DAFTAR PUSTAKA
Wiji Suarno. Dasar-Dasar Ilmu Pendidikan. (Yogyakarta: ar-Ruzz Media, 2016).
Fadlilah, Umi. “Rancang Bangun Website dan E-Learning di TPQ Al-Fadhillah.” Khazanah Informatika: Jurnal Ilmu Komputer dan Informatika 1.1 (2015).
Indonesia, Pemerintah Negara Republik. “Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 43 Tahun 2007 Tentang Perpustakaan.” (2007).

Admin Web Pelajar NU Perwira - IPNU IPPNU Kabupaten Purbalingga.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *