Share on whatsapp
Share on facebook
Share on twitter
Share on telegram

Usai membaca informasi perihal jenazah perawat positif Covid-19 yang ditolak warga di Semarang, saya pikir negeri ini tengah krisis sifat kemanusiaan. Di tengah kondisi pandemi Covid-19 yang cukup serius ini, seolah-olah negeri ini justru dipenuhi lelucon tiada henti.

Tenaga medis dibuat kesusahan mencari alat pelindung diri (APD). Padahal secara nyata dan jelas, garda terdepan dari pandemi virus ini adalah tenaga medis.

Rupanya APD yang sedang dicari-cari ditimbun oleh oknum-oknum krisis sifat kemanusiaan ini. Oleh mereka, masker dijual dengan harga selangit; hazmat1 dipakai untuk belanja di supermarket. Duhh! Bawaannya pengin ngelus dada sambal istighfar!.

Belum lagi masalah masker dan hazmat plus seperangkat alat pelindung diri lainnya usai, negeri ini dijejali lelucon pahit lain, tenaga medis yang bahkan mungkin selama berhari-hari tak sempat berjumpa dengan keluarganya bahkan sampai akhir hayatnya demi menangani pasien Covid-19 ditolak oleh warga saat tubuhnya hendak istirahat di tempat terakhirnya.

Sekali lagi, saya pikir negeri ini tengah krisis sifat kemanusiaan.

Apakah setelah 24 dokter wafat karena pandemi ini orang-orang seperti mereka sama sekali tak merasa iba?2 Mengapa malah melebih-lebihkan situasi dengan memnviralkan diri lewat cara penolakan jenazah Covid-19 semacam itu?

 

Khawatir dan membuat kita menjadi waspada, tentu boleh. Tapi jangan sampai kita panik !

Permasalahan pandemi ini bukan masalah yang bisa diselesaikan satu-dua golongan. Permasalahan ini harus diselesaikan secara bersama-sama. Maka, kalau sekiranya kita tidak ada keperluan yang amat sangat mari kita budayakan #dirumahaja dengan baik.

Bukan dengan mendekap erat-erat masker yang seharusnya dipakai oleh orang yang lebih membutuhkan atau memakai alat pelindung diri yang seharusnya dipakai para tenaga medis.

Ketika kondisi semacam sekarang tetap berlanjut, kasus Covid-19 mungkin saja bakal melonjak secara drastis. Per 10 April saja, kasus konfirmasi melonjak menjadi 3.512 hanya dalam jangka waktu tiga puluh sembilan hari sejak 2 kasus Covid-19 terkonfirmasi pada 2 Maret 20203.

Jika kita menghitung rata-ratanya maka terdapat kurang lebih 90 kasus konfirmasi setiap harinya. Melihat angka tersebut, bukan hal yang mudah bagi tenaga medis untuk menangani pasien Covid-19 di rumah sakit.

Covid-19 yang membuat kewalahan benar-benar harus mereka hadapi tanpa mengesampingkan pasien Demam Berdarah, Tuberculosis, Typhoid, dan pasien-pasien lain yang juga membutuhkan perawatan medis secara intensif.

Jika kondisi tetap berlangsung berkepanjangan, dimana tenaga medis menjadi garda terdepan tanpa APD yang memadai dengan dibarengi mereka-mereka yang terus menangkup keuntungan dari berjualan masker atau menggunakan APD bukan pada tempatnya, rantai penularan bakal sulit untuk diputus.

Terlebih mengingat tingkat penularan Covid-19 juga sangat tinggi meskipun angka kematiannya lebih rendah jika dibandingkan dengan SARS4 & MERS5. Penularan Covid-19 dapat terjadi meskipun pasien tidak bergejala.

Berbeda dengan penularan SARS yang dapat terjadi jika pasien sudah memasuki fase berat6. Hal ini benar-benar memasukkan tenaga medis ke dalam kategori individu yang sangat mungkin terinfeksi.

 

So! Yuk temen-temen, mari kita bahu membahu membantu tenaga medis dan pemerintah semampu kita. Kita cukup #dirumahaja. Kalaupun memang amat sangat perlu keluar rumah pakailah masker kain, tidak perlu repot-repot pakai hazmat.

Plus, jangan lupa ya biasakan cuci tangan! Lagi, lagi, dan lagi. Oiya, makan yang sehat dan teratur juga yaa.. biar imun kita tetap bagus. Salam Sahabat Sehat!

Semoga kita selalu diberikan kesehatan yaa 🙂

#SahabatSehatIndonesia

 

Keterangan:

1. Hazmat: Perlengkapan perlindungan pribadi yang digunakan untuk proteksi melawan material berbahaya
2. Berdasarkan kabar IDI (Ikatan Dokter Indonesia) pada Ahad, 5 April 2020.
3. Coronavirus Update: www.worldmeters.info
4. SARS (Severe Acute Respiratory Syndrome) : Masih satu homolog virus dengan Covid-19 dan menyebabkan epidemi pada November 2002 sampai pertengahan 2003
5. MERS (Middle East Respiratory Syndrome) : Masih satu homolog virus dengan Covid-19, muncul pertama kali pada tahun 2012.
6. Berdasarkan: Ye Yi, Phillip, et al. Maret 2020. Covid-19: What Has Been Learned And To Be Learned About The Novel Coronavirus Disease. International Journal of Biological Science.

 

Oleh : Retno Palupi Miftahul Aniyah [Instagram: Palupi_MS]

Admin Web Pelajar NU Perwira - IPNU IPPNU Kabupaten Purbalingga.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *